18 Tahun Tsunami Aceh
Melihat Kembali PLTD Apung Terseret 5 Km ke Darat

KOALISI.co - 18 tahun silam, 26 Desember 2004, bencana dahsyat gempa dan tsunami menghantam Aceh. Lebih 200 ribu lebih masyarakat Aceh menjadi korban. Kapal PLTD Apung menjadi salah satu bukti betapa dahsyatnya gelombang tsunami yang menyerat kapal seberat 2.600 ton dari laut ke darat, sejauh 5 kilometer.
Kapal dengan panjang 63 meter ini, didatangkan ke Aceh untuk memenuhi kebutuhan listrik di Aceh. Salah satu saksi hidup yang kini telah menjadi pegawa PLN UP3 Langsa adalah Deri.
Deri menuturkan bahwa kapal PLTD Apung itu sebelumnya berlabuh di berbagai daerah di Indonesia, untuk memenuhi kebutuhan listrik. Sebelum ke Aceh, mereka bertugas di Kalimantan.
Baca Juga: Maju Lagi, Abdullah Puteh Klaim Ingin Selamatkan Aceh dari Kemiskinan
“Kami ada 13 orang, 9 orang berasal dari Kalimantan, termasuk saya,” ujarnya.
Pada hari tersebut, Deri menuturkan bersama 6 orang rekan sedang melaksanakan piket.
”Pagi itu kami sedang piket, memang sehari-hari kami tinggal di kapal tersebut,” lanjut Deri
Ketika gempa dan tsunami datang, Deri bersama yang piket di Kapal PLTD Apung kemudian bergegas keluar dan turun ke daratan. Tiba-tiba dari arah laut suara gemuruh disertai gelombang tinggi menggulung.
Baca Juga: Ayu Marzuki Teteskan Vaksin Polio Bagi Anak di Lhoong Aceh Besar
Mereka terhempas air, Deri terseret arus ke laut. Saat gelombang kedua, Deri didorong ke daratan dan kembali ditarik ke laut ketika air surut.
Ketika itulah, Deri mengambil sebuah pelampung yang terhempas dari kapal cepat di pelabuhan. Pelampung itu digenggamnya di antara puing-puing sampah yang diseret tsunami.
"Saat memegang pelampung, saya lalu dihantam gelombang tsunami ketiga, dan terseret sampai ke daerah Surin," cerita Deri.
Baca Juga: Peringati 18 tahun Tsunami, Pemerintah Aceh Santuni Puluhan Anak Yatim
Dari Daerah Surin, Deri melihat corong Kapal PLTD Apung, saat itu kondisinya mengalami luka parah. Seluruh badan terluka akibat terkena goresan seng dan puing-puing tsunami.
Dalam kondisi seperti itu, Deri berjalan tertatih-tatih menuju ke arah cerobong kapal yang ternyata telah terdampar di daerah Punge, kurang lebih 5 Km dari lokasi awal di pantai Ulee Lheu.
Saat ini PLTD Apung telah menjadi salah satu icon wisata di Banda Aceh. General Manager PLN UID Aceh Parulian Noviandri mengatakan bahwa PLN telah menghibahkan kapal tersebut kepada Pemko Banda Aceh.
Baca Juga: Isak Tangis Keluarga Korban Tsunami Aceh 18 Tahun Silam
Tahun 2010 PLN telah menghibahkan kapal tersebut untuk Pemko Banda Aceh sedangkan mesinnya telah kita relokasi ke tempat lain
Parulian juga berharap agar PLTD Apung tidak hanya menjadi simbol hebatnya gelombang tsunami namun menjadi edukasi sehingga kita bisa bangkit lebih kuat dan bangun budaya sadar bencana.
“Ini juga bertujuan agar generasi selanjutnya dapat menyaksikan efek dahsyat yang ditimbulkan oleh kejadian tersebut dan pengingat sejarah bencana yang pernah terjadi,” tutur Deri




Komentar