Ramadhan dan Geliat Ekonomi Kerakyatan

Pedagang musiman di saat bulan ramadhan. Foto: ist

KOALISI.co - Salah satu hal yang menarik ketika ramadhan adalah munculnya penjual-penjual dadakan. Mereka berbondong-bondong mendirikan lapak dagangan di pinggir-pinggir jalan. Ada yang menjual aneka minuman segar, bubur, dan ada juga yang menjual gorengan.

Menambah semangat para pekerja yang baru pulang sambil berburu takjil. Ramadhan pun menjadi begitu berkesan dan berwarna. Kalau dipikir-pikir, fenomena di atas adalah bentuk rahmat dari sektor ekonomi.

Terkhusus bagi mereka para pelaku usaha rumah tangga dan UMKM. Bulan puasa turut mendorong percepatan ekonomi dalan skala mikro. (Maklum dalam rangka menyambut lebaran juga, ha-ha-ha).

Hanya saja pertanyaan saya adalah kenapa fenomena seperti ini hanya terjadi ketika ramadhan saja? Kenapa tidak berlanjut pada saat hari raya idul fitri dan bulan-bulan lainnya. Sehingga geliat ekonomi tersebut tidak mati suri begitu saja, dan baru akan kembali hidup pada bulan ramadhan berikutnya.

Baca Juga: Puasa Jangan Tidur Saja

Sebab menurut saya, kebutuhan cemilan saat ini sudah seperti kebutuhan pokok, dimana keberadaanya harus selalu ada dalam menemani aktivitas hidup kita sehari-sehari. Rasa-rasanya tanpa cemilan hidup menjadi hampa. Ibarat kata berbuka puasa tanpa takjil. Aih!

Jadi, kegiatan bazaar ramadhan pun jangan hanya sekadar seremoni setahun sekali bagi pemerintah, melainkan benar-benar menjadi wadah untuk memperkenalkan karya-karya anak negeri. Baik itu di bidang sandang, pangan maupun papan.

Selain itu, leading sector terkait seperti Dinas Koperasi dan UMKM harus getol betul dalam memberikan edukasi kepada warga terkait bagaimana seharusnya menjadikan momen sebagai suatu peluang usaha.

Baca Juga: Puasa dan Tumbuhnya Rasa Empati

Kalau masyarakat di level bawah sudah benar-benar memahami bagaimana komunikasi pemasaran yang baik, serta memahami dengan benar perilaku konsumen. Tampaknya masyarakat tidak lagi membutuhkan BLT, lantaran sudah pintar mencari uang sendiri. Seperti kata pepatah, "jangan berikan ikan, tapi berikan pancing, sehingga mereka berusaha".

Siapa tahu, langkah di atas adalah bagian dari ikhtiar kita dalam upaya menggeliatkan ekonomi berbasis kerakyatan pada saat ramadhan. Bayangkan, jika setiap kepala keluarga memiliki satu unit usaha saja dalam skala mikro.

Bukankah sedikit banyak akan memberikan pengaruh pada tatanan ekonomi nasional kita. Bukankah ekonomi berbasis kerakyatan juga sudah membuktikan tajinya? Bagaimana ia tidak limbung meski bertubi-tubi dihantam oleh pandemi. Bahkan mengalahkan perusahaan-perusahaan raksasa itu. Wallahu alam bishshawab.

Komentar

Loading...